Setelah beberapa waktu si Gue absen ngeblog, sekarang si Gue pindah rumah ke sinih. Mangga ah diaos. Beberapa postingan dari blog yang dulu ku si Gue dibawa kesinih, biar para punakawan nyang mau mbaca ga harus bulak-balik kesanah kemarih. Okeh?
Rumah Baru kang Andy
March 22nd, 2008Pelajaran dari kasus karikatur Nabi Muhammad SAW
February 9th, 2006Reaksi itu begitu kuatnya saudara seiman, ingin rasanya mengutuk n kalo tiba-tiba si pembuatnya nongol di depan si gue pasti langsung tak gebugin sampe klenger. Reaksi itu baru sirna ketika hati si gue mengucap satu kata: “astagfirullah“. Ajaib, si gue jadi lebih tenang (jadi pingin tau, mereka yang ngerusak n bakar-bakaran itu pada inget satu kata ajaib itu gak ya?).
Si gue ngambil air wudhu, insting aja, soalnya si gue ngerasa sang grand master of darkness (baca: syaiton himself) barusan nyaris nongkrong ongkang-ongkang di dalem qolbu. Semaleman sampe pagi si gue browsing, ampir semua media, si gue berusaha untuk berimbang, ngebaca release dari media yang bisa dianggap ngewakilin umat muslim n media yang bisa dianggap ngewakilin blok barat. Kesimpulan si gue: Media yang ngewakilin umat muslimin umumnya mengecam (sangat) keras, sementara media barat berusaha “membela” dengan dalih kebebasan berekspresi. Ini ampir seragam di semua media. Pagi itu si gue tidur dengan kepala pusing. Selain ngantuk (da kurang tidur wae) juga otak terus-terusan mikir, apa sebenernya di balik semua ini.
Kemudian, kita sama-sama jadi saksi, aksi protes (termasuk perusakan) terjadi di mayoritas negara-negara yang penduduknya kebanyakan muslim. Di lain pihak, kita juga ngeliat bahwa pihak blok barat (yang awalnya berkeras mempertahankan pendiriannya) akhirnya melunak, bahkan perdana menteri Denmark dan si pemred Jylland-Posten secara terbuka menyatakan permohonan maaf. Eh, tapi koq aksi protes n perusakan gak brenti ya? Malah ekskalasinya makin luas. Ini yang jadi salah satu alesan si gue mosting di sini (mudah-mudahan ada segelintir sodara seiman yang baca).
Kita hidup di dunia yang plural. Gak semua manusia itu muslimin. Artinya, gak semua manusia paham akan ajaran Islam. Jangankan yang non-muslim, lha yang ngakunya muslim aja juga belum tentu paham koq (iya kan? hayo… jujur aja). Buat kita kaum muslimin, Nabi Muhammad SAW adalah kekasih Allah SWT, junjungan kita semua, suri teladan bagi kehidupan kita, sang nabi akhir zaman. Tapi bagi kalangan di luar muslimin, (mungkin) mereka hanya tahu bahwa beliau adalah nabinya kaum muslimin, gak lebih, gak kurang, lebih-lebih dengan makin maraknya kampanye negatif tentang Islam. Apalagi bagi penduduk negara-negara yang jelas-jelas sekuler seperti kebanyakan kebanyakan negara barat, agama itu merupakan urusan pribadi, gak ada urusan ama orang lain. Jadi di sini kita sebagai kaum muslimin yang berakal dituntut untuk bisa memahami. Si gue punya satu cerita kecil, si gue punya temen cetting orang Eropa Timur. Entah gimana awalnya, satu malem kita ngebahas soal agama Islam. Tau apa yang dia bilang? “I hate moslemism”, katanya. Waktu si gue tanya kenapa, jawabannya antara lain: “Moslemism (nah, bilang Islamnya aja keleru ama muslimisme) treats women badly”, “Moslemism allows the killing of people”, “Moslem are terrorists”. Mungkin dia gak sadar kalo temen cettingnya ini juga seorang muslim (abisnya nama si gue emang nggak ngislam kali ya). Waktu si gue bilang bahwa si gue Islam, dia bilang nggak percaya. Terus aja si gue panjang lebar cerita tentang hal-hal yang dia anggap jelek tadi (semoga si gue gak salah ucap waktu itu). Si gue cerita, bahwa wajah Islam (n muslimin) khususnya di Indonesia itu beda bangeds. Eh, doi tertarik, n berhubung doi seorang mahasiswi antropologi, akhirnya kita janjian akhir taun ini mo ketemuan di Indonesia, katanya dia pengen ngebuktiin kata-kata si gue (kayaknya masih gag percaya deh anak itu). Kebayang gak, kalo waktu itu si gue langsung naek darah, trus mengumpat-ngumpat (pake bahasa sunda!) gak juntrungan. Kan malahan jadinya membenarkan apa yang dia yakinin sebelumnya bahwa kita muslimin sebagai “kaum barbar?”.
Sayangnya, sodara seiman, alih-alih berusaha memahami fakta tersebut, mata hati sebagian dari kita seolah dibutakan oleh tiupan syaiton. Aksi protes terus berlanjut, di beberapa negara malah ada yang sampai tewas segala dalam proses protes n perusakan itu. Kalau ada yang nganggap ini syahid, si gue gak setuju. Buat si gue, itu namanya mati konyol. Yang lebih konyol adalah apa yang terjadi di Surabaya n Jakarta. Setelah gag berhasil menemui perwakilan Denmark, protes dialihkan ke Kedubes n Konsulat Amerika. Alesannya: Amerika juga sama-sama negara barat yang berusaha menghancurkan kaum muslimin. Gebleg. Dungu. Apa hubungannya? Sejak kapan kita boleh “mengalihkan” permasalahan kayak gitu? Ibaratnya, orang sekampung ngejar-ngejar maling ayam gak berhasil, lalu karena kecewa, mereka ganti ngejar-ngejar orang yang diyakini sebagai maling sandal jepit (yang sebenernya malem itu lagi nikmat tidur). Coba, kalau udah gini, apa yang kita dapet? Selain travel warning (lagi), yang lebih parah adalah citra umat muslimin makin terpuruk. Kaum muslimin makin tercitrakan sebagai kaum barbar yang taunya cuma ngerusak, tereak-tereak, ngancem-ngancem, n sama sekali lupa bahwa sebetulnya semua itu bisa diselesaikan dengan tata cara bernegara yang terhormat. Mana bukti kebesaran ajaran Islam? Mana yang disebut rahmatan lil alamin?
Si gue mengecam para pemimpin umat, kiyai atau ajengan yang memimpin aksi protes itu. Pak Kiyai, pak ajengan, denger nih, umat itu bakal ngikut apapun yang panjenengan bilang. Coba si gue mo nanya, dari sekian ribu peserta demo yang panjenengan bawa, berapa persen yang pernah ngeliat langsung karikatur-karikatur itu? Pak kiyai jangan mempermainkan emosi umat. Bahaya pak Kiyai. Bahaya.
Apalagi kedengeran ungkapan bahwa “penghina nabi harus mati!”. Apa-apaan itu? Sepanjang ingetan si gue yang elmu agamanya sangat amat cemen ini, kanjeng Nabi Muhammad SAW tidak pernah marah sekalipun beliau dihina musuh-musuhnya. Itu fakta, bukan cerita! Lha wong nabi Muhammad SAW aja gag marah waktu dihina, lalu apa hak kita yang cuma umatnya ini untuk menunjukkan kemarahan luar biasa saat sekarang nabi junjungan kita itu dihina? Aneh memang umat Islam ini. Yang jelas-jelas diajarkan (baca: dicontohkan) oleh Nabi malah gak diturutin, eh, peringai syaiton (ya itu, ngumpat, ngancem, ngerusak, dll) malah ditiru n dilakuin.
Sodara-sodaraku. Inilah saatnya bagi siapapun kaum muslimin yang ngerasa ingin membela harkat dan martabat agama yang kita yakini. Bukan dengan ikut-ikutan demo, ngerusak dll. Tapi dengan BERSABAR, TAWAKAL dan MEMAAFKAN! Itu yang harus kita semua lakuin kalau kita ingin mencapai kemenangan dunia akhirat, Insya Allah. Ini saatnya kita tunjukkan wajah sesungguhnya dari Islam, rahmatan lil alamin.
Yakinlah sodaraku (duh, pengen nangis hati si gue). dengan bersabar, tawakal dan memaafkan kita gak akan dipandang sebagai kaum yang lemah, sebab ketiganya justru adalah tanda-tanda kaum yang kuat dan berjiwa besar. Naudzubillahi mindalik.
Broken Vows, Broken Wings and A Broken Man
January 9th, 2006“Gak mungkin kita terusin….”
“Kenapa gak mungkin? Gak ada yang gak mungkin di dunia ini..”
“Percayalah, ini demi kebaikan akang…”
“…maksudnya?”
“Justru karena Neng sayang, karena Neng cinta, makanya lebih baik kita akhirin…”
“………………..”
Begitulah. Ketika jarak jadi kendala, argumen pun disusun. Dikemas dalam bungkus kata-kata “sayang” dan “cinta” yang semestinya berguna sebagai penawar rasa sakit, penghilang rasa pedih. Maaf honey… ketika dua kata ajaib itu cuma kata-kata belaka, rasa sakit bertambah sakit, rasa pedih makin menggigit. Ah, udahlah. Komitmen sepasang manusia memang gak akan pernah bisa jadi garansi. Itu cuma permainan kata-kata belaka.
A broken man. That’s what I have become. Thanks to you, my sweet darling. You made those years completely a waste.
How I Found My Religion
November 21st, 2005Guys, inti dari apa yang kang Endih jelasin ke gw yaitu tentang konsepsi Islam secara umum. Dijelasin secara lugas n “translated” into the languages I speak. Pendeknya, Islam dianalogiin ke dalam dunia komputer yang emang gw paham bener logikanya. Sebelum si gw mulay, gw pikir ini adalah subjek yang bisa jadi tergolong “sensitif”. So, please, harap dicatet: di sini si gue gak bermaksud mengajarkan sesuatu “aliran” whatsoever. Ini cuma sebuah cerita. Kalo ada yang ngerasa cerita ini ngebantu pemahamannya tentang Islam, alhamdulillah. Tapi kalo ada yang keberatan, atau mungkin ngerasa “terhina”, maapkan daku saudaraku! That is NOT my intention.
OK, let’s start. Intinya kang Endih ngejawab beberapa pertanyaan si gue berikut ini:
- What is manusia?
- What is roh?
- What is Islam?
- What is Al-Quran & Al-Hadits?
- What is Syahadat?
- Why we have to do shalat 5 waktu?
- What is zakat?
- Why we have to do puasa?
- What is zikir?
- Why we have to go Jum’atan?
U see guys, itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang bertaun-taun gue tanyain ke bermacem-macem kalangan (mulai guru ngaji, ustadz, kiai). Itu pertanyaan yang bertaun-taun jawaban atasnya gak pernah bisa gue terima, ngambang, di awang-awang. So, after thinking for a while, kang Endih ngejawap pertanyaan gue itu kayak gini:
MANUSIA is the hardware. Seperti juga jenis-jenis hardware di dunia komputer yang merupakan kombinasi dari beberapa komponen (mainboard, processor, memory, harddrive dll), manusia juga bisa dibedain berdasarkan “kualitas” nya. Ada yang keluarga Intel Pentium, AMD dll. So bisa kita analogiin bahwa yang jadi prosesor kita adalah gabungan dari hati n otak, hard drive kita adalah bagian lainnya dari otak, sensor-sensor kita ada 5 (beberapa varian ada yang punya 6 sensor), dst. In this case, tubuh kita adalah sebuah super komputer yang punya kecepatan proses sangat tinggi.
ROH adalah daya (listrik) untuk mengoperasikan hardware di atas. Mirip dengan listrik, roh juga gak bisa kita liat, tapi bisa kita rasa (gak percaya? coba deh eluh colok itu stop kontak pake jari telanjang ambil nyeker, dijamin lo tau bener gimana rasanya “roh” versi 220v). Roh ini yang bertanggung jawab atas nyala-matinya si hardware. Kita idup dan “beroperasi” karena adanya roh ini “mengalir” di seluruh jaringan tubuh. Sekali stop kontak eluh dicabut, maka eluh pun koit, karena gak ada roh di lo punya sistem.
ISLAM adalah Operating System (O/S). Seperti di dunia komputer, ada beberapa O/S yang bisa diinstall di sebuah sistem hardware (Islam, Kristen, Hindu, Buddha etc). In this case kita pasang O/S Islam. Kita analogiin sebagai MS Windows XP aja (why Windows? Why not Linux? sorry dude, no offense, no hidden agenda, ini mah biar gampang aja neranginnya –gitu kata kang Endih). OK so kita udah punya Hardware + Daya Listrik, nah sekarang untuk lebih mendayagunakan keduanya kita perlu nginstall O/S kan? Maka diinstall-lah O/S ini. O/S ini kemudian bertugas buat memanage semua sumber-daya yang ada di hardware kita, ngasih driver yang paling pas buat semua peripheral-peripheral di sistem kita, nyalin online help-file (nurani!) yang bisa kita akses setiap saat, masang aplikasi-aplikasi standar sesuai usia kita (misalnya aplikasi berjalan, berbicara, melihat, meraba, dsb). Sesuai perkembangan si hardware (yang secara berkala di-upgrade secara otomatis: misalnya usia 8 bulan peripheral cuma mampu dipake ngerangkak, usia 1 taon lebih bisa berdiri, terus berjalan, terus bisa lulumpatan ngudag langlayangan –jang! jang! kade katabrak!) maka O/S ini pun juga ikut diupgrade (misalnya driver untuk kaki dari versi ngorondang ke versi berdiri terus ke versi berlari dst). Dalam perkembangannya, kita kemudian juga memasang aplikasi-aplikasi non-standar lainnya: misalnya aplikasi sekolah, aplikasi nyetir, aplikasi bekerja, dsb. Tapi dalam perjalanannya kadang-kadang aplikasi yang kita install gak selamanya baik, ada juga yang bersifat ngerusak n bikin beberapa files di O/S corrupted, misalnya aplikasi mabok, aplikasi judi, aplikasi “begituan”, aplikasi ngabohong, aplikasi korupsi dll. Nah, pada prinsipnya, even pada hardware yang udah diinstall O/S Islam ini ternyata banyak juga aplikasi-aplikasi jelek yang bukan aja ngerusak O/S tapi bisa juga ngerusak O/S yang ada di hardware-hardware lainnya di network kita (misalnya babaturan, keluarga, kabogoh dll). Yang parah kalo ternyata ada juga virus yang masup ke O/S kita, lebih-lebih yang bersifat trojan yang diem-diem terus-terusan ngerusak file-file yang ada di O/S kita sambil “melaporkan diri” ke server pembuatnya (baca: syaiton) tentang status kerusakan yang udah dibuat. Beda dengan O/S yang emang dibuat dalam bentuk “baku”, virus-virus ini terus-terusan di develop di fasilitas Reasearch & Development super canggih yang dimilikin ama sang Syaiton, yang dari ke hari selalu berusaha nyari metode baru buat menginfeksi O/S kita. Sebenernya sejak O/S kita diinstal, di situ udah termasuk aplikasi anti-virus yang udah bundled ama O/Snya, tapi untuk bikin anti-virus ini selalu updated, ya kita harus secara berkala ngedownload virus definition file yang baru. Gimana caranya? Ntar dibahas di bawah, makanya baca terus!
AL-QUR’AN adalah O/S Manual Book n AL-HADITS adalah Refference articles. Selain online help yang bundled ama O/S (dalam bentuk nurani), tersedia juga Manual Book (Al-Quran) n refference articles (Al-Hadits) yang bisa kita jadiin sebagai panduan untuk ngegunain O/S yang terinstall. Manual Book ini terdiri atas bab-bab yang bisa kita lihat sesuai kebutuhan, misalnya saat kita ingin tau gimana source code untuk ngejalanin aplikasi Al-Fatihah. Ada juga pelengkap manual book yang dinamain TAFSIR. Disitu biasanya tertuang penafsiran-penafsiran atas bab-bab atau source code aplikasi tertentu. Jangan salah, O/S kita bakal tetep jalan sekalipun tanpa kita ngebuka manual book atau refference articles. Tapi kalau kita ingin tau HOW it SHOULD work, then just consult those books!
SYAHADAT adalah kombinasi dari username + password. Pingin jalanin O/S? Login dulu! Untuk login u’ll need the username + password dude! So basically, everything starts here, where you actually authenticate yourself as the user of the system.
SHALAT 5 WAKTU. OK guys, here’s the important thing. Apa yang bikin lo ngerasa tenang saat pake sebuah O/S? Certainly, jawabannya adalh its customer service! Kenapa Windows masih tetep jadi O/S pilihan (this one is refered to the real world!)? Karena customer servicenya tobs! Pernah pake aplikasi “Windows Update”? Ini adalah aplikasi yang sekali lo aktifin, maka dia akan memeriksa system + O/S lo and membandingkan dengan yang ada di “server”. Kalo apa yang lo punya outdated, maka secara otomatis aplikasi ini ngedownload n nginstall di lo punya system. Gimana implikasinya thd apa yang lagi kita bahas? Simpel. Shalat 5 waktu adalah sarana kita “melaporkan” diri kita (FYI: masing2 hardware punya IP masing-masing!) ke Sang Super Server. Jadi basically kita wajib “dial-up” sebanyak 5 kali sehari, masing-masing sesuai protokol yang udah ditentuin (ada yang 2 rakaat, 3 rakaat & 4 rakaat). Disamping itu ada juga proses dial-up yang boleh kita lakuin diluar ke 5 waktu wajib dial itu. Apa yang kita dapet dari kegiatan “dial-up” n lapor diri ini? RASA AMAN, karena kita tau bahwa system kita selalu terupdate, kita selalu dapet driver-driver terbaru dst. Waktu dial-up ini juga bisa kita manfaatin untuk ngelaporin terjadinya “anomali” atau masalah-masalah yang kita alamin ke Sang Super Server, yang akan selalu bikin kita ngerasa tenang karena kita tau bahwa segala yang kita rasa “bermasalah” udah kita laporin. Dari sinilah maka kemudian akan timbul suatu keyakinan (FAITH) bahwa O/S kita berjalan dengan semestinya. Demi suksesnya proses dial-up ini, gak bisa kita lakuin serampangan coy! Ada protokolnya! Antara lain meriksa kebersihan semua “soket-soket” yang ada di peripheral kita (ini refered to Wudlu), ngirim dial-up username + password yang tepat (refered to: niat), n pada waktu yang telah ditentukan (otherwise your connection wont be counted). Ini makanya Shalat 5 waktu disebut sebagai TIANG AGAMA. Karena dengan rutin ngelakuin DIAL-UP, keyakinan kita (FAITH) atas O/S yang kita pake semakin kuat.
ZAKAT. Berapa banyak jumlah file yang ada di system lo? Berapa banyak yang sebenernya gak terpakai? Berapa banyak yang sebenernya merupakan bagian dari aplikasi yang terinstall di system punya orang lain? Gimana cara lo ngatur file-file lo? Gimana struktur fisik dari seluruh file lo? OK. Zakat adalah System Clean Up. I think the term is self-explainatory. U need this to clean up your system from redundant files.
PUASA. OK so u know that you fill your system with bunch of files and applications for 11 months. So in this particular months, u need to do some “file filtering”. Di sini eluh bener-bener ngebatasin n meriksa dulu file-file apa aja yang mau lo input ke lo punya system. While doing so, sekalian lo punya waktu untuk nganalisa aplikasi-aplikasi mana aja yang sebenernya gak lo perluin, n lo bisa lebih gampang ngedeteksi virus-virus n trojan karena servernya (si syaiton tea) lagi down the whole month, so bakal lebih gampang buat lo utk ngedeteksi n get rid of those viruses and trojans. Kalo lo berhasil ngejalanin proses ini, at the end of the month your O/S and your system will be “reborn”, cleaner than ever before.
ZIKIR is pinging (u know pinging rite… throwing some bytes of data to certain IP and listen to the response?). By pinging with the correct data format you’ll get the response from the designated IP. The more you ping the more you get responses. Other ways to describe it is to keep your system hooked to the Super Server.
JUM’ATAN (Friday Prayer). Di atas gue nyebut-nyebut tentang gimana caranya ngedownload virus definition file yang baru kan? Nah, ini salah satu caranya. Kita ndenger ceramah Jum’at, berarti kita lagi download virus definition file. File ini kita perluin untuk bikin bundled anti-virus yang kita punya lebih efektif nangkal virus n segala jenis trojans. Selain itu, dengan ngelakuin dial-up secara kolektif, kita dikasih bandwith 40x lebih gede daripada kalau kita dial-up sendiri-sendiri. Asik kan?
OK guys, this is how I found my religion. Sekali lagi, si gue nggak ada maksud untuk mengajak siapapun untuk sependapat ama si gue. But hey, it worked for me! So who knows it will work for some other logical geeks out there?
Many thanks to kang Endih. You opened my heart.
A Tribute to Mommy
November 19th, 2005Mom, will you ever be proud of me? Of what I’ve become? It’s been difficult without you Mom. Dulu gue anggap pepatah “surga di bawah telapak kaki Ibu” cuma kiasan doang. But now I know Mom. It’s been so much more difficult without you. Things are different. I remember everyday when I was going to werk you always said those simple sentences “Sok atuh dido’akeun ku Mamah sing lancar..”. Such a simple words. But since you’re gone, I know for sure that those words was “the magic words” that made everything was easy. Now things not as easier as it was Mom. Look at me. I’m 32 years old now. And I don’t know which way to go. However, I fulfilled my promise to you Mom. I kept watch as Anne & Thalia grow. I helped them finish their study. I gave them the bless in their marriage. I did what you asked me to do Mom. I did it. But why do I still feel the pain? I’m here Mom, thousand miles from home, trying to do my life the way you always taught us. Will you ever be proud of me?
I don’t know if I ever come back home Mom. What’s home? Where’s home? There’s no such thing as “home” for me no more. I guess my part back there is over Mom. Your youngest daughter has been married and gave you a cute healthy grandson. So my part back there is over. Now I continue my journey. I want to explore the world Mom. You taught me not to fear to go anywhere, like you once did when you’re young. So I go again. Only this time, I dunno if I’ll be ever come back home. Anyway, what’s home? Where’s home? So I’ll keep on searching Mom. I’ll keep on searching, keep on moving till I find my “home”. I promise Mom, I’ll make you proud of me someday.
Dad, sorry for being such a notorious son. It’s not about you. It was me.
Morale of the story:
Guys, kalo nyokap lo masih ada, please be kind to her. Jangan sia-siain anugerah Tuhan itu. Jangan terlambat sadar bahwa nyokap adalah hal penting yang harus selalu kita utamain. Jangan kehilangan kesempatan untuk ngebales apa yang yang udah nyokap kita lakuin buat kita (in fact, nggak mungkin akan pernah bisa kita bales). Jangan jadi gue, jiwa yang terkatung-katung.
My love to you Mom. May God always bless you in heaven.
Dedicated to the beloved Hj. Detty D. Garna (6/8/1943 – 18/9/1995)
Soulmate, what the hell is the meaning of it
November 19th, 2005Well, u see fren, I have to go all the way back to years behind, and asked my self the same question: “Have I (ever) found my soulmate?“. Untuk ngejawap pertanyaan itu si gue nyoba keras nginget-nginget lagi semua orang yang bisa masuk kategori “kandidat” soulmate si gue. Kriterianya? 1) Yang nyambung –meaning si gue bisa freely bicara tentang apa aja dengan dia tanpa takut n malu. 2) Someone yang kita bahkan gak perlu ngomong (pake kata-kata verbal) untuk ngasih tau what’s in my mind and bisa tau what’s in his/her mind. 3) Someone yang kita bisa ngabisin waktu berjam-jam “cuma” untuk ngediskusiin hal-hal yg gak penting n saling adu argumen (kadang saking sumangetnya sampe popolotot n tutunjuk), n at the end of the discussion kita masih teuteup jadi the best of friends, no hard feelings, and jadi makin pinter n dewasa. Okeh, so si gue mulai nginget-nginget balad, urut kabogoh, kabogoh, calon kabogoh (hehe) si gue…
Hasilna? Gak ada! Si gue juga syok sendre euy! Gilo leh! Ternyata selama umur si gue nu geus kaasup “menuai padi” ieu si Gue can pernah ngabogaan omet! Gak percaya ama hasil kalkulasi tadi, si gue nginget-nginget n nimbang-nimbang sakali deui…. Angger euwueh! Sedih rasana euy… Kalopun ada yang “nyaris” menuhin ke 3 kriteria di atas, cuma someone from my past, which I pray to God has a happy, better life now with her hubby n children. A girl from a decade ago. Yes Wirda, I remember you. I remember everything about you. Things we used to do, things we used to have. Dia ini fren, yang menurut si gue paling mendekati kriteria yang pantes disebut omet si gue. Percaya nggak fren, si gue n this special one bisa saling tau apa yang mau diomongin tanpa harus ngomong, bisa saling tau apa yang dirasain tanpa harus nanya, sometimes bisa tau kalo salah satu lagi susah hati ato lagi sedih tanpa harus ketemu. Kita biasa diskusi bout many ordinary things (ya kadang sampe popolotot juga) tanpa saling ngerasa sakit hati atouw “dikalahkan n mengalahkan”. Kanggo Neng Lia kabogoh si gue sekarang, maap ya hun kalo kebeneran baca ini, ga ada maksud buat ngungkit-ngungkit the past, let the begone begone. Si gue yakin bener, there’s always a soulmate for every soul in this world. Well in my case, either I have NOT find one, or I HAD IT once and gone.
It’s funny that sometimes you find yourself wondering about wot u got in life. And wot I got? Well, nothing actually. I found myself has been a total mess up since we lost our mother (pray for you all the time Mom, may God bless your soul in heaven). Hayya… wot’s this? Sorry, gue ngacapruk lagi ya? Okeh, balik ke soal omet. Have you (ever) found yours? Please, share your opinion with me guys…
Addicted to Stress
November 19th, 2005- “Buat saya, stress itu berarti beban kerja bertambah, sementara waktu kerja nggak bertambah” (Subagyo, 42, karyawan swasta)
- “Stress itu kalo kena macet di jalan, padahal mesti ngejar meeting ama klien” (Marina, 26, sales executive)
- “Saya sih paling ngerasa stress kalo ada audit di kantor. Rasanya deg-degan gitu” (Ahmad, 36, pegawai negeri)
- “Saya stress berat tiap kali pulang ke rumah ngeliat tampang istri yang udah pasang muka perang” (Jack, 27, pengusaha muda)
- “Aduh, stress nih. Tadi malem ketiduran, nggak sempat ngapalin. Mana dosennya killer lagi” (Susan, 21, mahasiswi)
- “Ngejar setoran tiap hari, itu yang selalu bikin saya stress” (Ucok, 31, sopir angkot)
- “Setres? Baru denger tuh Oom. Kira-kira laku berapa ya sekilonya?” (Ucup, pemulung)
Dari contoh-contoh diatas aja, kita bisa tarik satu benang merah: faktor-faktor pembentuk stress itu macem-macem, tapi umumnya sesuatu yang dekat dengan kegiatan kita sehari-hari. Disamping itu kualitas dari faktor pembentuk stress itu juga bisa bermacam2. Sebagai seorang pegawai negeri, Ahmad mungkin ngerasa ketar-ketir tiap kali ada tim audit nyelongkrong ke tempat kerjanya. Sementara Udin, rekan sekerja Ahmad mungkin ngerasa bisa-biasa aja. Dari sini mungkin kita bisa ngambil satu lagi kesimpulan: bahwa tingkat penerimaan seorang individu terhadap stress seenggaknya ditentuin oleh faktor eksternal (umumnya sesuatu yang ditakutin) dan faktor internal (daya tahan mental si individu tadi ngadepin faktor2 pembentuk stress) . Untuk tiap2 faktor pembentuk stress (eksternal) yang sama, masing2 individu punya daya tahan yang berbeda-beda.So, apa kita bisa kemudian ngambil kesimpulan, bahwa stress sama dengan sesuatu yang destruktif? Sesuatu yang bersifat ngerusak? Sesuatu yang ngerugiin? Bisa jadi. Tapi fren, pernah kepikiran ngga? Somehow, stress itu bisa jadi asset. In my opinion fren, stress itu punya sifat pendorong, motivator. Coba deh eluh inget-inget lagi, berapa kali eluh mbela-belain begadang ngerjain tugas ato presentasi penting yang bikin eluh ngerasa setres berat. Pernah merhatiin nggak, bahwa under stress, hasil kerjaan kita cenderung lebih bagus. Si gue bukan anak psikologi whatsoever, tapi boleh pan kalo si gue ngasih analisis (kajeun lah rada ngaco ge, da bukan lagi nulis karya ilmiah ieu). Menurut gue mah, dalam kuantitas dan kualitas tekanan stress tertentu, kita terdorong buat nyalurin yang terbaik yang kita bisa (seringkali itu diperintah sama alam bawah sadar kita). Alesanna mungkin bisa karena emang kita sangat amat ingin skale nunjukin bahwa kita mampu, atau bisa juga karena sieun berat ngebayangin si bos molotot kalo kerjaan kita itu gagal. Lah, apapun alesannya, kerja dibawah tekanan stress tertentu bikin diri kita lebih baik. Titik. Take it for granted.
Si gue juga percaya (pedah ngalamin sendre) bahwa makin kita sering ngadepin (n live with) stress itu, daya tahan kita terhadap stress juga ikut tumbuh. Analoginya mah kira2 mirip drug addicts, dosis yang dibutuhin makin lama makin gede, karena badan udah ngebentuk antibodi untuk dosis yang lama. Gitu. Si gue percaya bangeds ama apa yang si gue omongin ini. As the matter of fact, si gue mah bisa dibilang udah sah jadi seorg “stress addict”. Kalo diinget-inget, si gue punya kebiasaan suka mepet-mepetin kerjaan sedeket mungkin ama deadlinenya. Bukan kebiasaan yang bagus, he-eh si gue ge tau! Tapi susahnya, ya karena si gue yakin bangeds semakin mepet ke deadline, adrenali makin terpacu, n kerjaan jadi makin bagus hasilnya, karena pas ngerjainnya semua sel2 otak bisa dipaksa bekerja. Kenyataannya fren, itu yang selama ini gue rasain.
Anyone of u wanna say a word bout it?
The “Bomb Doctor” Died!
November 11th, 2005PERTAMA Gw udah cape banget negara kita disebut sebagai “negara nggak aman” (padahal di Amman aja bom meledak.. itu kan kota paling aman sedunia, lha wong namanya aja Amman). Gw eneg banget ama negara-negara “tertentu” (u know who lah) yg seenak udelnya ngecap kita sebagai “sarang teroris di Asia Tenggara” n lalu dengan semena-mena mberlakuin “travel warning” atas negara kita. Woy, Mister, Indonesia itu bukan cuman Bali ama Jakarta doang! Makanya gaul dong Mister, Indonesia teh luas tau! Nah, dengan tiwasnya si Dokter Bom gw pengen liat, apa yang mereka bilang, apakah si Mister-mister itu bakal nyambut gembira, atau dingin-dingin aja (karena mungkin berapapun gembong teroris yang kita bikin koit buat mereka mah nggak ngaruh, tetep aja nganggap kita sarang teroris).
KEDUA Selama ini kan tiap-tiap ada bom mledug Polisi kita selalu nunjuk “noh, si Azahari yang bikin”… Terus terang aja man, dari dulu gw nggak yakin kalo semua kejadian (ato sebagian besar) bom mledug di Indonesia itu kerjaan Azahari cs. OK, mereka bikin beberapa lah, tapi please deh, are you really sure that they have THAT kind of resources? Nggak deh. Nah, dengan tiwasnya Azahari kita bisa liat.. apa klaim itu bener atau ngaco. Prediksi gw mah, itu klaim yg ngaco sodara-sodara. Gw selalu yakin bahwa ada kekuatan lain yg lebih gede, yg punya akses ke resources yg diperluin buat bikin bom yang rumit. Siapa? C’mon lah… u knew exactly who they are.
KETIGA Dengan tiwasnya Azahari, salah satu tetangga kita yg kebelet banget pengen jadi Uncle Sam Juniorhey, you saw their policemen walking around on our soil rite? mestinya kehilangan alesan n justifikasi untuk ngubek-ngubek negara kita (). Gw eneg banget ngeliat mereka napsu banget nancepin pengaruh (& kepentingan) mereka di negara kita. Setelah Timor Timur, si Mister sekarang lagi ngecengin Papua. Mentang-mentang kita lagi susah, dipikirnya gampang gitu buat bikin East Timor Part 2? Huh, over our dead bodies Mister!
KEEMPAT Ini momentum yg bagus banget buat POLRI. You guys mau bersih-bersih kan? Sok atuh, lakuin sekarang! Jangan cuma lip service doang!
So now, kita sama-sama liat fren, gimana kelanjutannya. Please, please always be aware that many powers are trying to put their feet in our country. We must fight ‘em back. Not with arms, but by changing our mindsets.
Interfensi yang Kebablasan
October 15th, 2005Tapi ada sesuatu yang bener-bener ngganjel, bener-bener ngeganggu hati & pikiran si Gue. Tahukah Anda, sobat2, bahwa disini kalo seseorang kedapetan nggak puasa n makan-minum-ngeroko di muka publik (n ternyata ybs seorang muslim), ybs bisa dikenai denda sampe $2.000 (ampir 12 jeti) plus tampangnya nongol di berita tv malem & koran besoknya! Buat si Gue, ini bener2 aneh n gak masuk akal!
Menurut si Gue, Ibadah puasa (n juga ibadah lainnya pada umumnya) adalah urusan PRIBADI kita dengan Allah SWT, n segala perhitungannya merupakan hak mutlak Allah SWT. Jadi waktu si Gue tau tentang peraturan ini, jujur aja, si Gue ngerasa eneg bangeds! Apa hak seseorang untuk bertindak ngasih hukuman (dan denda yg lebih besar dari aturan yg ditetepin Allah sebagai pengganti ibadah shaum yang bolong) kayak gitu?
Ok, ok, mungkin itu karena aktivitas makan-minum-ngeroko itu dilakuin di depan publik… Tapi sobat, kalo kita pikir lebih dalem mengenai esensi dari pusa (yaitu MENAHAN HAWA NAFSU dan segala GODAAN), dimana letak perjuangannya kalo kita diproteksi sejauh itu? Sorry, buat si Gue itu penghinaan! Tanpa harus diproteksi seperti itu pun, kalo emang kita niat puasa, kan gak ngaruh biarpun di sekeliling kita orang makan-minum-ngeroko semaunya. Bukankah itu malahan bakal meningkatkan KUALITAS ibadah shaum kita?
Buat si Gue, negara (artinya negara manapun) gak berhak sejauh itu menginterfensi salah satu hak azasi kita sebagai makhluk Allah, memilih, memeluk, menjalankan dan meyakini agama apapun. Untuk urusan-urusan lainnya, ok, negara harus mengatur –terutama di bidang hukum & politik. Mungkin si Gue juga gak akan terlalu berisik kalo negara juga ngatur hal-ihwal beragama (dalam arti memberi FASILITAS & kemudahan). Tapi kalo saat negara juga ikut ngatur tentang gimana cara kita ngejalanin keyakinan kita itu, sorry, this is out of the line! Mau puasa atau enggak, mau zakat atau enggak, bahkan mau sholat atau enggak bukan urusan negara! Itu urusan pribadi kita sama Allah SWT!
Untunglah, ini bukan tanah air gue, bukan negara gue. Tapi gue cuma ikut prihatin.
(Ternyata) Nyatut Juga Euy!
August 23rd, 2005Haiiiyyyaaaa….